Kamis, 16 April 2015

Astaga, Bayi-bayi Ini Dilompati Oleh Pria Dewasa

Bayi adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan banyak perlindungan. Berbagai usaha dilakukan untuk melindungi dan menjauhkannya dari hal-hal yang berbahaya. Tetapi tidak demikian halnya yang ada di Spanyol. 


Bayi-bayi itu justru ditempatkan dalam matras dan diletakkan di jalan raya. Lebih anehnya lagi, bayi-bayi itu ditempatkan di sana karena akan dilompati oleh beberapa pria dewasa yang berkostum aneh. Tangis ketakutan para bayi itu tentu terdengar saat para pria itu berlarian dan melompatinya.


Begitulah suasana yang tampak dalam tradisi Festival  El Colacho yang diadakan antara bulan Mei dan Juni di Desa Castrillo de Murcia - Spanyol. 

 
Tradisi yang berlangsung sejak tahun 1600-an itu konon untuk mengangkat hal-hal yang buruk pada diri bayi sehingga bisa selamat dalam perjalanan hidupnya.


Festival dimulai dengan para pendeta dengan didampingi gadis-gadis kecil yang mendatangi bayi-bayi itu dengan membawa keranjang bunga. Setelah  melakukan ritual dan membacakan doa bagi sang bayi, tradisi mendebarkan itu pun segera dimulai.

 

Beberapa pria dewasa yang mengenakan kostum lambang perwujudan setan El Colacho yang aneh dan berwarna kuning lalu bersiap-siap untuk berlari dan melompati bayi-bayi yang diletakkan dalam matras. Dalam setiap matras terdapat 4-6 bayi.

 

Tentu sangat menegangkan dan berbahaya sekali saat Setan El Colacho itu berlari dan melompati sang bayi. Apalagi ada beberapa setan El Colacho yang beraksi serupa. Walau yang menjadi setan itu sudah ahli dan berpengalaman melakukannya, tetapi jika terjadi sedikit kecorobohan dan kesalahan dalam melakukannya bisa berakibat fatal pada diri sang bayi.
 

Tradisi ini  berlangsung beberapa hari dan dimulai sejak hari Rabu dengan aksi setan El Colacho mengejar dan menakut-nakuti  semua orang di kota sepanjang hari. Sebagai puncaknya dilakukan tradisi Lompat Bayi pada hari Minggu.


Warga tampak antusias menyambut tradisi ini dengan menghiasi rumah mereka dengan bunga dan altar kecil lengkap dengan anggur dan air bagi penonton parade. 


Oya, selain karakter El Colacho, dalam tradisi ini juga ada karakter legendaris yaitu El Atabalero  yang memakai baju hitam dan topi sombrero. Mereka berjalan mengelilingi  kota dengan membawa dan menabuh drum yang besar. 












Jumat, 10 April 2015

Tradisi Perang Tomat Yang Unik Dan Seru

Ribuan orang tampak berkumpul di lahan terbuka di kawasan Plaza Mayor di daerah Bunol, bagian timur Spanyol. 

 

Mereka datang ke sana untuk berperang dengan senjata yang unik berupa buah tomat. Tak tanggung-tanggung, ada buah tomat matang sebanyak 120 ton yang siap digunakan dalam peperangan itu.



Dalam peperangan itu , ada yang bertelanjang dada atau berpakaian seadanya. Ada pula yang berpakaian renang lengkap dengan kacamata renang. Tak berapa lama, jutaan butir buah tomat itu pun kemudian digelontorkan dari lima truk ke lautan manusia itu yang tampak menenggelamkan dan memerahkan suasana di sana. 



Begitulah gambaran suasana dalam Festival Tomatina. Festival ini diadakan setiap tahun di hari Rabu terakhir bulan Agustus di Bunol . Bunol  merupakan daerah subur dan penghasil buah dan sayuran yang berjarak sekitar 40 Km dari Valencia , kota terbesar ketiga di Spanyol.




Festival Tomatina ini konon bermula dari perang makanan antara anak-anak yang terjadi di pertengahan tahun 1940-an di Bunol. Pendapat lainnya mengatakan festival ini bermula dari beberapa pria yang melemparkan tomat ke orang-orang saat diadakannya parade Gigantes Cabenzudos. 

 
Sejak tahun 1959, kota Bunol mulai meresmikan fesival tersebut, dan La Tomatina menjadi salah satu festival terpopuler yang selalu berlangsung setiap tahunnya dan ribuan turis berdatangan ke Spanyol hanya untuk menikmati Festival La Tomatina. 


Biasanya festival ini bisa diikuti oleh siapa saja secara gratis. Tetapi pernah juga pelaksanaan festival Tomatina yang mengharuskan pesertanya membayar tiket senilai $ 10. 
 


Walaupun membayar, tetap ada banyak peserta dari Australia, Jepang, Inggris, Spanyol dan Amerika Serikat yang tertarik untuk mengikutinya.


Yang menarik, siapapun yang hadir dalam festival yang berlangsung selama berjam-jam itu seakan harus menaati peraturan tak tertulis untuk tidak marah bila terkena lemparan buah tomat dari arah mana  dan siapa saja yang melemparnya. 



Siapapun yang datang harus siap untuk melempar tomat atau dilempar tomat. Banyak juga yang menggunakan ember atau timba untuk mengguyur korbannya dengan lumatan buah tomat.



Dengan banyaknya buah tomat yang disediakan, tentu saja menyebabkan kawasan itu menjadi banjir oleh buah tomat yang lumat seperti minuman jus tomat dengan warna merahnya yang khas. 


Para peserta pun tampak bersuka ria saat terkena atau berendam di cairan buah tomat itu dengan tak lupa berfoto ria Entah bagaimana rasanya terkena atau berendam dalam cairan tomat itu.



Usai acara festival, para peserta kemudian  menuju ke sungai terdekat untuk mandi dan membersihkan dirinya.






















Selasa, 07 April 2015

Serunya Tradisi Memberi Makan Hantu Yang Kelaparan

Hantu atau arwah yang penasaran ternyata juga membutuhkan makanan yang nikmat dan lezat. Begitu pula mereka dipercaya bisa membalas dendam jika tidak mendapatkan sajian makanan itu atau membalas dendam bagi siapa saja yang pernah menyakitinya.



Begitulah gambaran dari diadakannya Festival Hantu Kelaparan di China. Festival  ini diadakan  pada tanggal 15 bulan 7 dalam kalender Tionghoa yang juga dikenal sebagai Bulan Hantu.
 

Konon, dalam bulan itu ada  kepercayaan bahwa dalam  kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka sedang terbuka. Hantu-hantu yang ada di dalamnya turun ke bumi dan bergabung dengan alam manusia. 


Agar terhindar dari ulah jahat dan gangguan dari hantu-hantu itu, maka manusia pun berusaha untuk membujuknya atau merayunya dengan memberinya aneka sesajian berupa dupa serta makanan dan minuman yang lezat. Aneka ornamen yang berwarna-warni juga dipasang di berbagai tempat sehingga suasananya menjadi tampak meriah.


Ada pula pendapat yang mengatakan tradisi ini untuk  pemujaan leluhur dan kewajiban untuk berbakti kepada orang tua ataupun kakek nenek semasa hidup maupun setelah mereka meninggal. 



Pada puncaknya adalah dibuatnya ornamen-ornamen yang berukuran cukup besar dengan wujudnya berupa sosok hantu. Ornamen itu terbuat dari bambu, kertas dan kain beraneka warna dengan berbagai ornamennya. Di beberapa tempat lainnya juga ada yang menyalakan lampion dan perahu kertas di air.



Setelah semuanya siap dan rangkaian prosesi dilakukan, hantu-hantu itupun dibakar bersama dengan ribuan lembaran kertas doa dan uang kertas.


Tradisi ini pada awalnya dilakukan oleh para petani sebgagai penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewa . Tujuannya agar panen yang biasanya jatuh di musim gugur bisa mendapatkan hasil yang berlimpah. 


Tetapi dengan adanya pengaruh Buddhisme, hal itu kemudian memunculkan kepercayaan mengenai hantu-hantu yang kelaparan (makhluk Preta) dan perlu diberi jamuan saat kehadiran mereka di dunia.
 

Seiring dengan perkembangan masa, Festival Hantu Kelaparan ini tidak hanya diadakan di China saja. Tetapi juga di negara lainnya yang terdapat etnis Tionghoa.Sepintas tradisi ini mirip dengan tradisi Ogoh-ogoh di Bali, tetapi tentu saja nuansa etnik dan budayanya berbeda jauh tetapi tetap menarik dan eksotis.


Sabtu, 04 April 2015

Ritual Pemakaman Langit Yang Mengerikan Di Tibet


Berpisah dengan anggota keluarga, kerabat atau teman karena faktor kematian tentu sangat menyedihkan. Berbagai upaya dilakukan untuk menghormati orang yang meninggal itu sebelum dimakamkan baik melalui aneka tradisi,  ritual dan budaya yang berbeda di setiap daerah.


Tetapi untuk tradisi  pemakaman yang ada di negara Tibet ini sangat mengerikan sekali. Betapa tidak, jenazah itu tidak dimakamkan secara layak seperti  prosesi pemakaman pada umumnya. 
 

Sebaliknya, tubuh jenazah justru disayat-sayat dan dicincang dan dijadikan santapan lezat bagi ratusan burung pemakan bangkai yang berkerumun di sekitarnya.


Tradisi yang sudah berlangsung lama itu dikenal dengan nama Pemakaman Langit dan dilakukan oleh warga yang ada di provinsi Qinghai, Tibet, Mongolia Dalam dan Mongolia. Tradisi ini dilakukan karena kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi. 



Sulitnya mencari lahan kuburan atau kayu bakar untuk mengkremasi jenazah, menjadikan ritual yang mengerikan ini menjadi pilihan yang praktis untuk mengurai jenazah.


Terlebih dengan adanya kepercayaan bahwa lokasi tempat dilakukannya ritual itu merupakan pintu gerbang menuju ke nirwana. Selain itu juga karena  warga Tibet mayoritas memeluk agama Budha Vajrayana yang percaya dengan adanya reinkarnasi bahwa orang yang meninggal akan dilahirkan kembali dalam bentuk yang lain.


Sangat mengerikan menyimak ritual Pemakaman Langit yang bagi orang lain tampak seperti tindakan yang biadab. Ritual dimulai dengan membawa jenazah-jenazah di puncak sebuah gunung di mana di sana sudah berkumpul para pendeta, pemotong jenazah, keluarga dan kerabat yang meninggal dan wisatawan yang tertarik menyaksikan ritual ini.


Setelah itu jenazah kemudian ditelungkupkan atau ditengkurapkan untuk disayat-sayat oleh beberapa pria yang bertugas sebagai pemotong jenazah. Merekalah yang bertugas untuk memotong jenzah itu menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dimakan oleh burung pemakan bangkai. 


Berbagai alat dan cara memotong  digunakan untuk mengeluarkan semua bagian tubuh jenazah itu. Dengan banyaknya burung pemakan bangkai yang berkumpul di sekitar lokasi, tentu tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan potongan-potongan jenazah itu hingga tinggal tulang-belulang saja. 

Tak jarang, tulang-belulang yang masih terdapat potongan daging itu juga ditumbuk dan dihancurkan agar bisa dimakan oleh burung-burung yang berukuran kecil lainnya.


Tentu saja ritual pemotongan jenazah ini menjadi ritual yang horor dan mengerikan karena darah yang menggenang dan potongan daging atau organ tubuh yang berceceran  di mana-mana. Belum termasuk bau jenazah yang tentu sangat menyengat.



Yang tak kalah mengerikan, beberapa diantaranya ada yang membawa pulang tempurung kepala jenazah itu untuk digunakan menjadi tempat  minum. Sedangkan tulang belulang lainnya dikumpulkan dan dirangkai dalam satu tiang kecil yang kelak menjadi semacam batu nisan yang akan diziarahi oleh keluarga sang jenazah.













Jumat, 03 April 2015

Tradisi Membersihkan Diri Dengan Api Di Jepang


Ribuan orang berkumpul di lapangan yang di tengahnya terdapat menara dari batang bambu hijau. Pada menara itu terdapat tumpukan aneka ornamen seperti kertas doa, aneka jimat , patung Daruma , jerami,  daun cemara dan sebagainya.Menara itu pun kemudian disulut dengan api sehingga menimbulkan kobaran api yang cukup tinggi. 


Begitulah gambaran suasana dalam tradisi Festival Dondo-Yaki yang diadakan setiap tahun baru di Jepang. Tradisi ini dilakukan untuk berharap adanya kebahagiaan bagi mereka. Sedangkan unsur api digunakan karena dalam tradisi Sinto , api dipercaya mempunyai kekuatan untuk membersihkan .


Warga datang dengan membawa kazari mono yang biasanya ditempel di pintu rumah pada saat tahun baru untuk dibakar di lokasi acara dengan tujuan untuk mengantar dewa kembali ke surga.  dan berharap mendapatkan kesehatan dan keamanan untuk seluruh anggota keluarga. 


Selain acara inti, acara ini juga diramaikan dengan pembagian Tonjiru, Onigiri, Jus, dan Sake Dewa (sake yang diletakkan di dalam bambu sambil di bakar). Dan tentu yang tidak boleh dilewatkan adalah kue Mochi. Setiap orang diberi mochi yang sudah di pasang di bambu untuk di bakar di api Dondo Yaki. 

 

Dengan berdiri menghangatkan badan di sekitar menara api itu, mereka yakin hal itu bisa membersihkan diri dari segala unsur negatif dalam hidup. 


Yang menarik, setelah menara dan segala isinya itu habis terbakar, kemudian melanjutkan dengan kegiatan masak bersama. Yang dimasak berupa kue mochi yang disebut Mayu Dama.



Cara memasaknya juga cukup unik yaitu menancapkan kue mochi pada pucuk batang bambu yang masih segar. Setelah itu dengan dipegangi oleh tangan, bambu-bambu dengan kue mochi itu kemudian dibakar di kobaran api.  


Di Jepang, tradisi ini Festival Dondo-Yaki ini diadakan di tepian Sungai Tamagawa, Setagaya-ku , Tokyo. Tetapi yang paling meriah diadakan di Mima, Prefektur Tokushima.









Rabu, 01 April 2015

Kabuki, Seni Teater Yang Mengagumkan Dari Jepang

Pria itu tampak aneh dan menyeramkan. Matanya melotot dengan wajah yang berwarna putih , biru, merah dan hitam. Begitu pula dengan tatanan rambut dan kostumnya. Dia benar-benar tampil bagai makhluk dari dunia lain.


Begitulah salah satu penampilan pemain dalam Kabuki , kesenian tradisional yang berasal dari negara Jepang. Kesenian ini unik dan khas karena semua pemainnya menggunakan pakaian dan tata rias  yang tebal dan mencolok . Banyak pemain Kabuki yang menggunakan bedak yang terbuat dari tepung beras untuk riasan wajah yang tebal dan ada nuansa halus seperti keramik.


Dalam sejarahnya, Kabuki ini awalnya dimainkan sebagai pertunjukan drama tari pada tahun 1603 oleh Okuni, seorang pendeta wanita dari daerah Izumo.Saat itu  dia mengenakan kostum laki-laki dengan membawa pedang dan aneka aksesoris yang aneh dan tak biasa pada masa itu. Kisahnya saat itu bertutur  tentang laki-laki yang minum di kedai teh dengan ditemani oleh para wanita penghibur.


Seiring dengan perkembangan jaman, Kabuki kemudian digolongkan menjadi dua kategori yaitu Kabuki-odori ( Kabuki Tarian) dan Kabuki-geki ( Kabuki Sandiwara). Kabuki-odori dipertunjukkan sejak masa kabuki masih dibawakan oleh Okuni hingga di masa kepopuleran Wakashu-kabuki, di mana remaja laki-laki menari dengan diiringi lagu yang sedang populer dan disertai dengan akrobat.


Kabuki ini pada intinya ada 2 jenis pertunjukan yaitu Kabuki-kyogen dari semua karya yang dihasilkan pada zaman Edo dan  masih dipentaskan hingga saat ini. Kelompok pertama Kabuki-kyogen disebut Maruhon mono yang mengadaptasi sebagian besar cerita dari cerita Ningyo Jōruri (Bunraku).  Sedangkan kelompok kedua adalah  Kabuki kreasi baru. 


Dari segi cerita , Kabuki ada dua kategori yaitu yang  berasal dari dramatisasi kisah sejarah yang disebut Jidaimono.Untuk cerita kabuki dengan kisah berlatar belakang kehidupan masyarakat disebut Sewamono.


Yang menarik, pada masa Edo, pementasan Kabuki-kyogen perlu mendapat izin dari pejabat pemerintah  yang berwenang. Keshogunan Edo biasanya mengizinkan sebagian besar pementasan Kabuki yang diadakan sejak matahari terbit hingga sebelum matahari terbenam dengan catatan materi pementasannya tidak melanggar peraturan yang sudah ditetapkan. 


Sedangkan untuk pementasan yang dilakukan pada malam hari sesudah matahari terbenam tidak diizinkan karena pemerintah khawatir banyaknya penonton Kabuki ini dapat  melakukan kegiatan yang  melawan pemerintah.



Kini Kabuki dikenal sebagai kesenian yang mengagumkan karena menggabungkan unsur tari, musik, pantomim dan drama. Banyak wisatawan yang menjadikan Kabuki ini sebagai hiburan yang wajib ditonton dalam kunjungannya ke Jepang.