Senin, 22 Juni 2015

Tradisi Berburu Cacing Yang Unik Di Inggris


Bagi banyak orang, cacing mungkin merupakan hewan yang menjijikkan. Tubuhnya yang lunak dan berlendir menjadikan banyak yang tidak mau memegangnya. Tetapi berbeda halnya dengan yang ada di Inggris.


Di sana justru ada tradisi berburu cacing pada setiap tahunnya dan bahkan tradisi itu kemudian berkembang menjadi kompetisi. Tradisi itu bernama Worm Charming dan pertama kali diadakan di  Desa Nantwich, Chesire pada tahun 1980. 


Orang yang pertama kali memperkenalkan olahraga memancing cacing ini adalah Tom Shufflebotham, seorang warga lokal Nantwich. 


Ia mengenalkan  kegiatan yang aneh dan  unik ini pada 5 Juli 1980 dan  saat itu ia berhasil mendapatkan 511 ekor cacing tanah dalam waktu setengah jam.


Cara mengikuti kompetisi ini cukup mudah. Para peserta hanya diwajibkan mematuhi 18 peraturan yang telah ditetapkan. Diantaranya adalah setiap peserta hanya memiliki wilayah perburuan seluas 3 x 3 m2 saja. 

 
Mereka diperbolehkan memainkan musik apa saja untuk menarik perhatian atau memancing cacing agar keluar dari tanah. Tapi mereka tidak diperbolehkan menggali tanah dan menggunakan obat-obatan termasuk air. 


Dalam waktu yang telah ditentukan ,orang yang bisa mengumpulkan cacing tanah paling banyak dan  dari petaknya dan telah dihitung hasilnya oleh juri akan dinyatakan sebagai pemenang.

 
Yang menarik, cacing tanah sangat peka terhadap getaran suara. Biasanya , hewan itu akan naik ke permukaan tanah kalau mendengar suara atau getaran yang khusus. 


Hal inilah yang membuat para peserta memiliki cara sendiri untuk bisa membantu memancing cacing tanah ke permukaan . Diantaranya dengan memukul dan bahkan menggedor tanah supaya cacing naik ke permukaan.


Salah satu metode tradisional yang biasa digunakan adalah dengan menancapkan garpu berkebun dan memukul gagangnya dengan menggunakan kayu sehingga gigi garpu bergetar ke bawah tanah dan menghasilkan frekwensi tinggi.

 
Dalam perkembangannya, selain ada banyak alat musik yang digunakan, di antara peserta itu bahkan juga ada yang mengenakan kostum-kostum yang unik dan kreatif.














Kamis, 18 Juni 2015

Tradisi Pernikahan Ular Phyton Yang Unik Di Kamboja

Ada banyak tradisi pernikahan di dunia. Tetapi untuk tradisi pernikahanyang satu ini cukup unik dan beda karena yang menjadi pengantin bukanlah manusia tapi sepasang ular phyton yang berukuran cukup besar.


Tentu tradisi itu terasa menegangkan karena walaupun tidak berbisa, tetapi ular phyton memiliki kemampuan melilit dan meremukkan korban yang lengah dan ada di sekitarnya.



Tradisi ini biasa diadakan di desa Svay Rolum, Kamboja. Ribuan orang hadir dalam upacara pernikahan itu. Pernikahan dilakukan di dalam ruangan yang dipimpin oleh biksu dengan mendekatkan kedua ular phyton itu. 


Selain itu juga dengan memercikkan air dan membacakan doa pada ular phyton di akhir akhir acara.Sedangkan warga melemparkan aneka bunga ke tubuh kedua ular phyton itu.

Tradisi ini dilakukan berdasarkan pesan dari peramal agar menjauhkan nasib buruk dan membawa kemakmuran serta kebahagiaan bagi desa.


Tradisi pernikahan ular phyton di Kamboja ini mengingatkan saya pada tradisi serupa tetapi beda satwa yaitu tradisi Manten Kucing ( pernikahan kucing ) di daerah Tulungagung - Jawa Timur.




Minggu, 14 Juni 2015

Serunya Bermain dan Berenang Dalam Lumpur

Bermain atau berenang dengan air tentu sangat menyenangkan. Apalagi jika air itu bersih, nyaman dan dengan lokasi yang rapi dan indah.Tetapi apa yang dilakukan oleh banyak orang ini justru sebaliknya.



Mereka tampak nyaman dan menikmati saat bermain dan berenang dalam lumpur. Entah bagaimana rasanya ketika lumpur itu mengenai dan melumuri sekujur wajah dan tubuh mereka. Apalagi dengan banyaknya orang yang seolah saling berebut lumpur di sana.



Begitulah gambaran suasana dalam Festival Lumpur Boryeong atau lebih dikenal dengan nama Boryeong Mud Festival. 


Selain sebagai sarana sarana penyadaran warga tentang manfaat dan khasiat lumpur Boryeong, festival yang sudah berlangsung sejak tahun 1998 dan  biasanya diadakan di bulan Juli ini juga ditujukan sebagai pembersihan spiritual dan fisik . 


Selain itu juga adanya mitos bahwa lumpur di sana bisa membuat awet muda dan berkulit halus bagi siapa saja yang menggunakannya.


Bahkan khasiat lumpur yang juga menjadi bahan kosmetika itu sudah dikaji dan dibuktikan dalam berbagai penelitian ilmiah seperti yang dilakukan oleh Korea Research Institute of Standards and Science, Korea Research Institute of Chemical Technology.


Lumpur Boryeong yang ditampung dalam bak berukuran sangat besar itu berasal dari lumpur yang dikumpulkan di sepanjang garis pantai dan telah diproses untuk menghilangkan kotoran, sehingga lumpur itu dianggap bersih.

 
Festival ini diadakan di Pantai Daecheon , Boryeong, Chungcheongnam-do yang Jaraknya sekitar 2,5 jam perjalanan dari Seoul - Korea Selatan.

 

Selain lumpur dengan warna alaminya yaitu abu-abu, di sana juga terdapat lumpur yang sudah diberi aneka warna. Sehingga mereka yang menggunakan lumpur warna itu tampak menjadi manusia yang berwarna-warni.














Minggu, 07 Juni 2015

Gemerlap Cahaya dan Warna Dalam Festival Diwali


India tak hanya dikenal karena produksi filmnya yang kolosal, goyangannya yang menggelora dan lagu-lagunya yang mendayu-dayu. Tetapi India juga dikenal dengan tradisi dan budayanya yang eksotis.



Salah satunya adalah tradisi Festival Diwali yang biasanya diadakan pada sekitar
bulan Oktober hingga November oleh umat Hindu di India. Karena dalam bahasa India, Diwali berarti barisan cahaya, festival Diwali juga dikenal dengan nama Festival Cahaya.



Sesuai dengan namanya, aneka cahaya dan warna memegang peranan penting dalam festival ini. Cahaya itu bisa berasal dari lilin, lentera, lampu , kembang api, dan sebagainya.


Dari aneka sumber cahaya, ada warga India yang lebih memilih menggunakan lampu minyak bersumbu dengan menggunakan wadah yang etnis dan tradisional. 


Bagi umat Hindu., cahaya menjadi sebuah tanda dari kesucian, keberuntungan dan kekuatan. Adanya pancaran cahaya itu juga melambangkan tidak adanya  kegelapan dan hawa jahat dari kehidupan manusia. 



Ketika mereka dikelilingi oleh cahaya, mereka berharap kehidupan mereka setahun ke depan akan senantiasa terjaga dan  terbebas dari segala kejahatan dan gangguan iblis. Sedangkan lampu-lampu ini diletakkan di setiap sisi rumah untuk menghalau semua hal jahat. 



Ada banyak versi yang berkisah tentang awal mula Festival Diwali ini dan setiap wilayah bagian India memiliki kisah yang berbeda. 


Legenda tentang Diwali terpopuler berasal dari India bagian utara. Kisah ini bermula ketika Lord Ram (Dewa Rama) pulang kembali ke Ayodhya setelah mengasingkan diri selama 14 tahun bersama istri dan keluarganya. 


Untuk merayakan kembalinya sang raja, warga India menyinari sekeliling mereka dengan cahaya. Tradisi inilah yang sampai sekarang masih dipegang kuat dan dirayakan dalam Diwali.




Sedangkan di India bagian selatan, Diwali dirayakan sebagai lambang kemenangan Dewi Durga melawan iblis Narakasura. 
 

Karena itu, warga di sini menyalakan lampu dan lilin pada hari Naraka Chaturdashi. Hal ini menandakan:  cahaya mengalahkan kegelapan , kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan.















Senin, 01 Juni 2015

Indahnya Jutaan Lentera Dalam Festival Loy Krathong

Suasana malam itu sangat terang benderang sekali. Ada cahaya dari jutaan lentera menerangi di sana. Dengan dipegangi dan dibacakan doa sebelumnya oleh para biksu dan warga, jutaan lentera itu kemudian dilepas dan tampak berterbangan memenuhi angkasa.


Begitulah gambaran suasana dalam Festival Lay Krathong yang diadakan di  Chiang Mai - Thailand.  Festival ini biasanya diadakan pada bulan purnama ke-12 dalam kalender tradisional Thailand. 


Saat itu warga di Thailand  akan menuju ke berbagai sungai, danau dan kanal untuk mengikuti tradisi yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun ini. Festival ini dilakukan sebagai pemujaan kepada Phra Mae Khongkha, Dewi Air.


Selain itu festival ini juga  memberikan kesempatan bagi warga untuk menghargai dan berterima kasih atas kemurahan hati Dewi Air selama setahun ini dan memohon untuk tetap memberikan keberuntungan untuk tahun berikutnya.


Sesuai dengan namanya, selain dengan menyalakan  dan menerbangkan lentera, juga diadakan pelepasan Krathong di sepanjang aliran sungai. Krathong adalah semacam perahu berbentuk bulat dan berukuran kecil hingga besar dengan berbagai ornamen.


Krathong itu ada yang terbuat dari kayu, roti atau potongan bambu dan pohon pisang. Ada yang menghiasi perahu kecil ini dengan bunga, dedaunan, lilin, dupa dan berbagai jenis dekorasi lainnya. 



Setelah memilih kratong-nya, warga kemudian menuju ke sungai, berdoa, dan mengapungkan (loy) kratong mereka. 


Yang menarik,  beberapa orang bahkan ada yang meletakkan potongan kuku atau beberapa helai rambut mereka sebagai simbol permulaan baru.


Festival Krathong ini biasanya juga dimeriahkan dengan pawai kendaraan hias dengan terdapat ornamen-ornamen khas Thailand. Termasuk juga Krathong dengan berragam lampu dan lenteranya yang  beraneka warna.









Selasa, 12 Mei 2015

Mitos Patung Kucing Maneki Neko Pembawa Keberuntungan

Nama patung kucing Maneki Neko mungkin masih banyak yang belum mengetahuinya. Tetapi mungkin ada banyak yang sudah tahu bagaimana bentuk patung kucing itu. Patung ini berbentuk khas yang menggambarkan sosok kucing dalam posisi berdiri. Salah satu tangannya terangkat ke atas seolah sedang menyapa atau melambai.  Ada Maneki Neko yang bisa bergerak secara mekanis pada tangannya.



Patung kucing Maneki Neko ini biasa digunakan sebagai benda budaya oleh mereka yang beretnis Tionghoa. Mereka biasa menempatkan patung itu di dalam rumah, tempat usaha seperti toko, restoran dan sebagainya. Selain sebagai penghias ruangan, Maneki Neko ini juga dipercaya sebagai pembawa keberuntungan bagi mereka yang menyimpan dan memajangnya.



Nama Maneki Neko berasal dari bahasa Jepang yang berarti “ Kucing Pengundang ”. Selain itu juga dikenal dengan nama kucing rezeki, kucing uang, dan kucing penyambut.


Yang menarik, konon ada mitos tentang gerakan tangan patung kucing itu . Saat tangan sebelah kiri diangkat, ini menandakan bahwa hal ini akan menarik pelanggan untuk datang. Bila yang kanan diangkat, ia akan mengundang rezeki dan uang. Apabila kedua cakarnya diangkat, ini berarti boneka kucing tersebut sedang meminta perlindungan.


Begitu pula untuk warnanya, konon ada makna tersendiri. Warna Calico ( krem): kombinasi warna tradisional, dianggap paling membawa keberuntungan, warna Putih: kebahagiaan, kesucian, dan hal hal positif untuk datang, warna Emas: kekayaan dan kemakmuran, warna Hitam: menyangkal aura jahat, warna Merah: berhasil di hubungan antara teman dan cinta  dan warna Hijau: kesehatan yang gemilang.

 
Maneki Neko juga mengenakan dan membawa aksesoris seperti  kain alas dada, kalung leher, dan lonceng. Konon , hal ini karena pada masa  Edo, para juragan kaya banyak yang mendandani kucing peliharaannya  seperti itu. selain itu, ada juga sebuah lonceng yang diikatkan di kalung lehernya supaya pemiliknya tahu keberadaan kucingnya jika hilang.  

 
Aksesoris lainnya pada Maneki Neko biasanya juga terdapat Logam oval emas seharga 1 Ryo karena pada masa  Edo, satu Ryo mempunyai nilai nominal yang sangat besar, Martil uang magis: Jika Anda melihat satu martil/palu kecil, ini menandakan kekayaan. Saat dikocok, martil ini biasanya mengundang rezeki. 


Ada juga yang membawa Ikan, biasanya ikan carper karena : Ikan ini simbol dari kelimpahan dan rezeki baik dan Kelereng atau batu permata karena benda ini juga berfungsi sebagai penarik uang. Banyak orang percaya kalau bola kristal menandakan kebijaksanaan.



Maneki Neko  ini juga kadang memegang labu manis, kertas doa, lobak, dan batang logam. Barang-barang ini dipercaya menandakan kekayaan dan nasib baik. 

Sedangkan bahan pembuatnya ada yang dari besi, plastik, kayu, keramik dan sebagainya dengan berbagai ekspresinya.